Mengintip Jejak Adat Melayu Asahan: Dari Upacara Perkawinan hingga Tradisi Pesisir. Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, menyimpan kekayaan budaya yang memesona, terutama dalam adat Melayu Asahan yang masih lestari hingga kini. Keunikan adat ini tak hanya tercermin dalam upacara-upacara besar seperti perkawinan, tetapi juga dalam berbagai tradisi yang menyatu dengan kehidupan masyarakat pesisir sehari-hari. Memahami warisan budaya ini adalah langkah penting untuk melestarikan identitas lokal yang autentik.
Salah satu pilar utama adat Melayu Asahan adalah upacara perkawinan. Prosesi ini biasanya diawali dengan lamaran atau “meminang”, di mana keluarga laki-laki secara resmi menyampaikan niatnya kepada keluarga perempuan. Kemudian, dilanjutkan dengan “berantar belanja”, yaitu penyerahan mahar dan perlengkapan perkawinan. Puncak acara adalah akad nikah yang disusul dengan resepsi pernikahan, seringkali diwarnai dengan tarian dan musik tradisional Melayu seperti zapin atau lagu-lagu Melayu kontemporer. Sebagai contoh, pada tanggal 10 April 2025 lalu, sebuah upacara perkawinan adat Melayu Asahan yang meriah dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kota Kisaran, dihadiri oleh ratusan tamu undangan, termasuk perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Asahan.
Selain perkawinan, adat Melayu Asahan juga kaya akan tradisi pesisir yang berhubungan erat dengan kehidupan maritim. Masyarakat Asahan yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan memiliki tradisi “tolak bala” atau “kenduri laut” yang rutin diadakan setahun sekali sebagai bentuk syukur atas hasil tangkapan dan memohon keselamatan. Upacara ini biasanya dilakukan di tepi pantai atau muara sungai, melibatkan persembahan sesajen yang dilarung ke laut, diiringi doa-doa dan lantunan syair. Misalnya, pada hari Jumat, 2 Mei 2025, para nelayan di Desa Silau Lama, Kecamatan Air Joman, menggelar kenduri laut yang berlangsung sejak pagi hari hingga menjelang sore, dipimpin oleh tokoh adat setempat, Bapak H. Razali. Kegiatan ini tidak hanya sebagai wujud ritual, tetapi juga ajang silaturahmi antarwarga dan mempererat kebersamaan.
Tradisi lain yang patut dicermati adalah “bertandang”, yaitu kunjungan silaturahmi antar tetangga atau sanak saudara, terutama saat hari raya Idulfitri. Dalam kunjungan ini, tuan rumah akan menyajikan hidangan khas Melayu Asahan seperti lontong sayur, kari ayam, atau kue tradisional. Kehangatan dan keramahan adalah ciri khas dari tradisi ini. Selain itu, ada juga tradisi “bercukur rambut” bagi bayi yang baru lahir, sebagai bentuk syukuran dan harapan agar anak tumbuh sehat. Tradisi ini biasanya diiringi dengan pembacaan salawat dan doa-doa.
Dengan segala kekayaan dan keunikannya, adat Melayu Asahan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat. Pelestarian adat ini bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh adat, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Asahan. Mempromosikan keunikan adat ini kepada khalayak luas, baik melalui festival budaya maupun edukasi di sekolah, akan membantu menjaga warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
