Sumatera Utara memiliki khazanah seni gerak yang sangat beragam, dan salah satu yang patut kita lestarikan adalah dengan Mengenal Tari Gubang Asahan. Tarian ini merupakan seni tradisi masyarakat Melayu pesisir di Kabupaten Asahan yang awalnya berfungsi sebagai ritual pemanggil angin bagi para nelayan yang hendak melaut. Nama “Gubang” sendiri diambil dari istilah perahu atau sampan tradisional yang digunakan masyarakat setempat. Dalam setiap gerakannya, terkandung doa dan harapan agar para nelayan diberikan keselamatan serta hasil tangkapan yang melimpah saat mengarungi luasnya samudera Hindia.
Saat kita mencoba Mengenal Tari Gubang Asahan, kita akan melihat perpaduan gerak yang sangat unik antara kehalusan tangan dan ketangkasan kaki yang ritmis. Tarian ini biasanya ditarikan oleh sekelompok pria dan wanita dengan iringan musik yang didominasi oleh suara biola, akordeon, dan dentuman gong serta gendang melayu yang dinamis. Kostum yang dikenakan para penari biasanya berupa busana teluk belanga dengan warna-warna cerah yang melambangkan kegembiraan dan semangat juang masyarakat pesisir. Kecepatan tempo musik yang meningkat di tengah pertunjukan membuat suasana panggung menjadi sangat energik, mencerminkan ombak laut yang terkadang tenang namun bisa berubah menjadi ganas.
Filosofi dalam upaya Mengenal Tari Gubang Asahan tidak lepas dari nilai gotong royong dan religiusitas. Sebelum tarian dimulai, biasanya terdapat pembacaan mantra atau syair-syair yang kini telah berakulturasi dengan nafas Islami, berisi permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain sebagai sarana ritual, tari ini juga berfungsi sebagai hiburan rakyat dalam menyambut tamu kehormatan atau merayakan pesta perkawinan. Keterbukaan masyarakat Asahan terhadap pengaruh luar namun tetap memegang teguh akar tradisi menjadikan tarian ini sebagai simbol diplomasi budaya yang efektif untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga di wilayah pesisir timur Sumatera.
Tantangan dalam mempopulerkan kembali tarian ini adalah minimnya minat generasi muda untuk mempelajari pakem gerak asli yang cukup teknis. Oleh karena itu, kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah sangat diperlukan agar anak-anak sejak dini bisa Mengenal Tari Gubang Asahan sebagai bagian dari identitas mereka. Inovasi aransemen musik pendamping juga mulai dilakukan agar lebih sesuai dengan telinga modern tanpa menghilangkan cengkok Melayu yang menjadi jiwanya. Dengan sering mementaskan tarian ini di berbagai festival budaya tingkat nasional, diharapkan mata dunia akan semakin terbuka terhadap kekayaan seni pertunjukan yang dimiliki oleh Kabupaten Asahan yang sangat luar biasa ini.
